Waktu Untuk Keluarga Adalah Sebuah Prioritas
Hati ini jadi tergelitik saat membaca sebuah email dari milist TDA. Disini saya kutipkan lagi email dari Pak Badroni Yuzirman:
Pekerjaan telah menyita hampir seluruh waktu kita.
Ditambah hobi dan minat, waktu untuk keluarga dan anak makin berkurang.
Keluarga selalu menjadi “prioritas sisa”.
Itulah kenyataan yang terjadi pada sebagian besar kita.
Bagaimana jika dibalik?
Waktu untuk keluarga menjadi prioritas, yang lain harus mengalah.
Saya dapat ide ini setelah membaca buku Revolusi Bisnis Abad Ke-21
dari Ricardo Semler. Salah satu pernyataannya yang saya suka adalah:
“Mengapa kita tidak boleh membawa anak ke tempat kerja apabila kita
bisa membawa pekerjaan ke rumah?”
Buku ini mengajak pembaca untuk menggunakan logika terbalik.
Bagaimana jika kita menyusun jadwal berdasarkan keluarga sebagai
prioritas utama dan pekerjaan menjadi prioritas kedua?
Setiap minggu, buat jadwal yang berprioritas untuk keluarga lebih
dulu, misalnya mengantar anak sekolah, mengantar anak ke dokter,
menemani istri ke Carrefour. Setelah itu selesai, baru jadwalkan waktu
untuk pekerjaan.
Sesuaikan jadwal pekerjaan kita dengan jadwal waktu keluarga yang
sudah dibuat. Bila ada yang bentrok, utamakan untuk keluarga.
Hal ini sudah saya praktekkan dan lumayan berhasil.
Ini beberapa contohnya:
Kemarin, saya menolak beberapa janji pertemuan lantaran harus
mengantar ibu mertua ke bandara (meski pun ternyata jadwalnya
berubah). Biasanya janji pertemuan seperti ini selalu mendadak. Kita
seperti “ditodong”. Belajarlah berkata “tidak”.
Saya menjadwalkan pertemuan dengan vendor setelah selesai menemani
istri belanja ke Carrefour.
Beberapa waktu lalu saya membatalkan jadwal pekerjaan hampir seminggu
karena harus menemani mama terapi.
Apakah tidak mengganggu produktivitas dan profesionalitas?
Tidak, karena sistim bisnis sudah berjalan. Pendelegasian sudah
berjalan. Saya hanya bertemu dengan sedikit orang dan itu pun yang
sifatnya strategis saja. Selebihnya saya mengendalikan bisnis
mengandalkan jempol, maksudnya dari BlackBerry.
Saya tidak percaya dengan jargon “yang penting quality of time”.
Menurut saya quality datang setelah quantity.
——
Itulah email dai Pak Yuzirman. So.. bagaimana menurut Anda?




Yup, begitulah seharusnya. Keluarga itu utama.
Maaf saya baru ngeblog lagi nih.
Salam persohiblogan.
betul sekali..
memang keluarga adalah segala-galanya…
maaf baru kunjungan balik